Landasan pendidikan

Pendidikan Di Indonesia Pada Era Militerisme Jepang


Zaman penjajahan Jepang berlangsung pendek (7 Maret 1942 – 17 Agustus 1945). Pendidikan di masa pendudukan Jepang jauh lebih buruk dari sebelumnya, ketika Indonesia masih di bawah penjajahan pemerintah kolonial Hindia Belanda.

Ketika Jepang datang, Jepang menjadikan Indonesia sebagai pangkalan perangnya. Masyarakat harus hidup di bawah kondisi perang yang diterapkan jepang.

Mengenai jaman Jepang disebut “Hakko Hichiu” yakni mengajak bangsa Indonesia bekerja dalam rangka mencapai kemakmuran bersama Asia Raya. Oleh karena itu pelajar setiap hari terutama pada pagi hari harus mengucapkan sumpah setia kepada kaisar Jepang, lalu dilatih kemiliteran. 
Sistem persekolahan dijaman pendudukan Jepang banyak perbedaannya dibanding dengan Belanda, Jepang mengadakan perubahan dibidang pendidikan diantaranya : menghapuskan dualisme pengajaran. Dengan begitu habislah riwayat pengajaran barat dan pribumi. Adapun susunan pengajaran menjadi, pertama sekolah rakyat enam tahun (termasuk sekolah dasar), kedua sekolah menengah tiga tahun (SMP), ketiga sekolah menengah tinggi tiga tahun (SMA pada zaman). 
Kondisi Pendidikan Nasional Pada Masa Jepang
Zaman penjajahan Jepang berlangsung pendek (7 Maret 1942 – 17 Agustus 1945).  Indonesia dikuasai Jepang di masa perang, segala usaha Jepang ditujukan untuk perang. Murid-murid disuruh bergotong-royong mengumpulkan batu, kerikil dan pasir untuk pertahanan. Pekarangan sekolah ditanami dengan ubi dan sayur-mayur untuk bahan makanan. Murid disuruh menanam pohon jarak untuk menambah minyak untuk kepentingan perang. 
Kebijakan pendidikan
Di masa pendudukan Jepang, pendidikan tingkat dasar hanya ada satu macam yakni sekolah dasar selama enam tahun. Jepang menyeragamkan sekolah-sekolah dasar di Indonesia agar mudah diawasi. Kebijakan ini berdampak positif. Anak-anak pribumi dari keluarga miskin yang sebelumnya tidak berhak untuk sekolah, jadi mengenyam pendidikan yang sama dengan anak bangsawan dan keturunan Belanda. 

Jepang juga membentuk sekolah guru yang terdiri atas sekolah guru dua tahun (shoto shihan gakko), sekolah guru empat tahun (cuutoo shihan gakko), dan sekolah guru enam tahun (koto shihangakko).

Adapun beberapa kebijakan Jepang dalam bidang kependidikan yaitu:
1. Mengambil tenaga pribumi dengan merekrut Ki Hajar Dewantoro sebagai penasehat bidang pendidikan. Upaya ini dilatarbelakangi pengalaman kegagalan sistem Nipponize (Jepangisasi)yang mereka jalankan di Manchuria dan China. Karena itulah, di Indonesia mereka menggunakan format pendidikan yang mengakomodasi kurikulum berorientasi lokal.
2. Guru-guru agar memiliki keseragaman pengertian tentang maksud dan tujuan pemerintahannya. Materi pokok dalam latihan tersebut antara lain: (1) Indoktrinasi ideologi Hakko Ichiu, yaitu “Kemakmuran Bersama Asia Raya” dengan semboyan Asia untuk Asia; (2) Nippon Seisyin, yaitu latihan kemiliteran dan semangat Jepang; (3) Bahasa, sejarah dan adat-istiadat Jepang; (4) Ilmu bumi dengan perspektif geopolitis; serta (5) Olahraga dan nyanyian Jepang.
3. Jepang menginstruksikan ditutupnya sekolah-sekolah berbahasa Belanda, pelarangan materi tentang Belanda dan bahasa-bahasa Eropa lainnya, sehingga memaksa peranakan China kembali ke sekolah-sekolah berbahasa Mandarin di bawah koordinasi Hua-Chino Tsung Hui, yang berimplikasi pada adanya prosesresinification(penyadaran dan penegasan identitas sebagai keturunan bangsa China). Kondisi ini antara lain memaksa para guru untuk menerjemahkan buku-buku berbahasa asing kedalam Bahasa Indonesia untuk kepentingan proses pembelajaran. 

Metode pendidikan, 
yakni metode pengajaran pada lembaga 
pendidikan yang diberlakukan pada 
zaman Jepang, terdiri atas dua, yakni 
metode klasikal dan metode pengajian. 
Metode klasikal, diselenggarakan di 
sekolah-sekolah melalui kegiatan program 
kurikuler dan kegiatan program esktra 
kurikuler, yang berfokus pada pengem-
bangan kemampuan belajar lebih lanjut 
bagi peserta didik. Sedangkan metode 
pengajian diselenggarakan di pondok-
pondok pesantren yang menerapkan 
metode bandungan dan Sorogan,
dimana seorang ulama mengajar santri-
santri berdasarkan kitab kitab yang ditulis 
dalam bahasa Arab oleh ulama-ulama 
besar sejak abad pertengahan sedang 
santrinya tinggal dalam pondok atau 
asrama. Pondok pesantren di masa 
Jepang, tetap mempertahankan bentuk 
manajemen pendidikannya yang asli 
(tradisional).

KESIMPULAN

tujuan Jepang ke Indonesia ialah menjadi Indonesia sebagai sumber bahan mentah dan tenaga manusia yang sangat besar, artinya bagi kelangsunganj perang pasifik. Adapun beberapa kebijakan Jepang dalam bidang kependidikan yaitu: 1. Mengambil tenaga pribumi dengan merekrut Ki Hajar Dewantoro sebagai penasehat bidang pendidikan. Upaya ini dilatarbelakangi pengalaman kegagalan sistem Nipponize (Jepangisasi)yang mereka jalankan di Manchuria dan China.

Karena itulah, di Indonesia mereka menggunakan format pendidikan yang mengakomodasi kurikulum berorientasi lokal. Sekalipun menjelang akhir masa pendudukannya, ada indikasi kuat Jepang menerapkan sistem Nipponize kembali, yakni dengan dikerahkannya para Sendenbu (propagator Jepang) untuk menghancurkan ideologi Indonesia Raya.